Pendidikan yang menyatakan bahwa mereka mengalami kesulitan

Pendidikan merupakan salah satu alat
yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir manusia. Setiap
negara memiliki standar pendidikan yang berbeda-beda, sehingga setiap negara
memiliki standar kurikulum yang berbeda pula. Hal ini tentu membuat pemerintah Indonesia melakukan beberapa
perubahan pada kurikulum pendidikan agar dapat memenuhi standar yang telah
ditentukan.

Perubahan kurikulum yang dilakukan
pemerintah yang dilakukan pemerintah mulai dari kurikulum 1947 yang bernama
rencana pembelajaran hingga saat ini yang bernama kurikulum 2013. Kurikulum
2013 diharapkan mampu mengintergrasikan. Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di
dalam pembelajaran yang dijelaskan dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun
2017, mengintegrasikan keterampilan abad 21 atau diistilahkan dengan 4C (Creative, Critical Thinking, Communicative,
dan Collaborative) yang dijelaskan
dalam Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015, serta mengintegrasikan HOTS (Higher Order Thinking Skill) yang
dijelaskan dalam Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Kurikulum 2013, seorang guru dituntut
untuk melakukan pembelajaran yang inovatif. Untuk melakukan pembelajaran secara
inovatif tentunya diperlukan
daya dukung dari seluruh aspek. Hal ini tertulis dalam Permendikbud No.22 tahun
2016 yang menyatakan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara
interaktif, inspiratif, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi secara
aktif, memberikan ruang bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian seuai
bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik
(Permendikbud No 22 tahun 2016).

Berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan menunjukkan bahwa
pada proses pembelajaran di SMK Negeri 3 Malang masih menggunakan Buku Sekolah Elektronik sebagai bahan
ajar. Buku Sekolah Elektronik dinilai kurang efektif apabila digunakan
dalam proses pembelajaran hal ini didukung dengan pernyataan dari Zaenal dkk dalam penelitiannya yang
menyatakan bahwa materi muatan dalam

Buku Sekolah Elektronik kurang mencapai target sekolah
karena belum adanya peraturan yang membagi kewenangan, peran, dan tugas untuk
masing-masing lembaga pendidikan (Zaenal dkk, 2011). Hal ini juga didukung
dengan hasil observasi pada siswa yang menyatakan bahwa mereka mengalami
kesulitan dalam memahami materi karena konten dalam buku tersebut bersifat
monoton yaitu hanya berupa gambar dan teks, serta dalam materi yang disampaikan
masih kurang mendetail. Hal ini sesuai dengan teori Edgar Dale tentang kerucut
pengalaman dimana siswa hanya mengingat 10% dari apa yang dibaca, 20% dari apa
yang didengar, dan 30% dari melihat gambar atau video (Rizal, 2013).

Dalam penyampaian materi guru menggunakan media pembelajaran berupa powerpoint dengan materi yang diperoleh
dari Buku Sekolah Elektronik. Dalam pembelajaran guru masih menggunakan metode
belajar konvensional dengan model pembelajaran Discovery Learning menggunakan metode ceramah sehingga siswa
cenderung menjadi pasif karena pembelajran hanya terjadi satu arah. Hal ini menyebabkan siswa
cenderung kesulitan dalam mengembangkan keterampilan dan pengetahuan kognitif
yang mereka miliki.

Bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang
menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang dikuasai siswa dan digunakan dalam
proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi
pembelajaran (Prastowo, 2014). Bahan ajar yang disusun harus sesuai
kurikulum yang berlaku dengan mempertimbangkan karateristik siswa sehingga
dapat mempermudah guru dalam proses pembelajaran. Bahan ajar digunakan sebagai
alternatif bagi siswa untuk belajar secara mandiri dan mengurangi
ketergantungan terhadap guru.
Pemilihan bahan ajar harus sesuai dengan mata pelajaran yang berkembang sesuai
kurikulum.

Rancang Bangun Jaringan  merupakan
salah satu mata pelajaran kurikulum 2013 yang diajarkan pada SMK kelas XI
jurusan TKJ (Teknik Komputer Jaringan) program keahlian Teknik Komputer dan
Jaringan. Seiring dengan perkembangan teknologi, sangat penting jika siswa
dapat menguasai mata pelajaran ini, karena dalam dunia industri mereka dituntut
untuk memahami bagaimana sebuah jaringan komputer dapat digunakan dan
memberikan manfaat.

Berdasarkan hasil observasi pada mata pelajaran Rancang Bangun Jaringan yang 
dilakukan di SMK Negeri 3 Malang pada guru tanggal 22 November 2017
diketahui bahwa pembelajaran yang berlangsung masih terfokus pada guru dan
siswa hanya sebagai objek belajar sehingga siswa masih mengalami
kesulitan dalam memahami materi yang berpengaruh pada hasil belajar. Hal ini didukung dengan pernyataan siswa
bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran yang
disampaikan oleh guru, karena guru hanya menggunakan Buku Sekolah Elektronik
sebagai bahan ajar. Hal ini berbanding terbalik dengan jumlah siswa yang
memiliki laptop masih tergolong sedikit yaitu sebesar 40% yang digunakan untuk
memahami materi pembelajaran. Akan tetapi sebanyak 96.5% siswa memiliki smartphone dengan sistem operasi minimal
Jelly Bean yang dapat digunakan
sebagai media pembelajaran. Smartphone dapat menjadi alternatif media
pembelajaran bagi siswa dalam melakukan pembelajaran khususnya dalam
mempelajari materi Rancang Bangun Jaringan 
yang disampaikan oleh guru.

Dari permasalahan tersebut maka diperlukan bahan ajar yang dapat mendukung
kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa. Dalam Kurikulum 2013
diperlukan bahan ajar yang dapat membuat siswa mandiri dalam melakukan kegiatan
pembelajaran, sehingga bahan ajar berbasis
mobile dapat menjadi salah satu alternatif 
bahan ajar pada mata pelajaran Rancang Bangun Jaringan. Bahan
ajar berbasis mobile dirancang
sebagai pengembangan dari bahan ajar yang pernah ada yaitu modul Rancang Bangun
Jaringan berbasis EPUB yang digunakan di SMK Negeri 2 Malang. Modul Rancang
Bangun Jaringan berbasis EPUB memiliki beberapa kekurangan sebagai berikut: (1)
Perlunya penambahan interaksi lain sehingga dapat memperluas pengetahuan siswa
dan menarik siswa untuk belajar; (2) Penambahan fitur update materi agar lebih mempermudah guru dalam mengupload materi.
Dari kekurangan tersebut maka, dirancang bahan ajar berbasis mobile untuk mengatasi kekurangan
tersebut.

Dalam pengembangannya, bahan ajar ini disesuaikan dengan model pembelajaran kurikulum 2013,
yaitu model pembelajaran yang dapat menunjang pemahaman siswa terdapat
materi. Contextual Teaching and Learning (CTL)
merupakan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara
penuh untuk dapat menemukan konsep materi yang dipelajari dan menghubungkan
dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkan
dalam kehidupan sehari-hari (Sanjaya, 2012). Tujuan utama dari Contextual Teaching and Learning (CTL)
adalah membantu siswa untuk mengaitkan makna pada pelajaran akademik siswa.
Ketika siswa menemukan makna dalam pelajaran siswa akan mengingat apa yang
dipelajari (Rosalin, 2008).

Dalam pembelajaran guru SMK Negeri 3 Malang menggunakan model
pembelajaran Discovery Learning
dengan model ceramah siswa masih kesulitan dalam memahami
materi, sehingga diperlukan model pembelajaran yang dapat menunjang pemahaman
siswa terhadap materi. Dengan
menerapkan model pembelajaran Contextual
Teaching and Learning (CTL) diharapkan dapat mendorong siswa untuk menemukan hubungan materi
yang telah diajarkan berdasarkan pengalaman dengan kehidupan sehari-hari dengan
mengungkapkan pendapatnya selama proses pembelajaran.

Berdasarkan latar
belakang yang telah dipaparkan, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Pengembangan Bahan Ajar Rancang Bangun Jaringan Bermuatan Contextual
Learning Berbasis Mobile Pada Siswa SMK Kelas XI Semester I Paket
Keahlian Teknik Komputer Dan Jaringan”.