Indonesia sendiri, kondisi jalan yang dilalui, dan sebagainya.

Indonesia adalah negara dengan peringkat kelima
kecelakaan di dunia, dengan jumlah korban tewas yang dilaporkan sekitar
26 ribuan jiwa atau setara dengan  72
jiwa per harinya. Hal ini menurut laporan dari Global Status Report on Road Safety,
yang dilansir oleh WHO pada tahun 2015. Namun yang lebih mencengangkan lagi,
Indonesia pada tahun 2017 telah menempati urutan pertama peningkatan
kecelakaan, dengan jumlah korban yang tewas adalah 120 jiwa per harinya ( Global Status Report on Road Safety, 2017
).  Hal ini tidak bedanya dengan Negara
Nigeria yang mengklaim 140 jiwa melayang akibat kecelakaan lalu lintas

            Kecelakaan lalu lintas dibedakan
menjadi 4 jenis yaitu kecelakaan pada sepeda motor, mobil, kendaraan umum, dan
pejalan kaki. Adapun kecelakaan pada mobil adalah kecelakaan yang paling rawan,
mengingat kendaraan ini memakan banyak tempat di jalan Selain itu, penyebab
kecelakaan mobil yang lain dapat berupa kelalaian dari pengguna itu sendiri,
faktor cuaca, faktor kendaraan itu sendiri, kondisi jalan yang dilalui, dan
sebagainya. Namun, berdasarkan data dari Departemen Perhubungan RI tahun 2015 menunjukkan
bahwa 50% kasus kecelakaan mobil disebabkan oleh kelalaian manusia itu sendiri
( Human Error ). Oleh karena itu,
dibutuhkan sebuah alat transpotasi atau kendaraan yang tidak memiliki Human Error, yang bisa kita sebut dengan
mobil tak berawak ( self driving car ).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Mobil tak berawak ( self driving car ) adalah mobil yang
didesain dengan menggunakan sistem algoritma, sehingga untuk mengendarainya
tidak dibutuhkan input dari manusia. Disamping itu, mobil ini menggunakan teknologi
yang canggih untuk mendeteksi  lingkungan
disekelilingnya seperti radar, sinar laser, navigasi, GPS, penglihatan
computer, dll. Adapun mekanisme dari mobil ini adalah menganalisa dari
informasi sensor untuk membedakan berbagai jenis mobil yang dilintasinya,
mengidentifikasi jalur navigasi yang sesuai, dan rintangan yang dilaluinya.

            Berdasarkan survei global pertama
tahun 2015 tentang penggunaan mobil tak berawak, dimana hal ini dilakukan oleh The World Economic Forum bersama Boston Consulting Group, didapatkan
hasil 58 % responden menyatakan ingin menaiki mobil ini, dimana hanya 35 %
responden menyatakaan dapat membiarkan anak-anaknya sendirian. Adapun beberapa
alasan responden seperti : alasan pertama, mereka dapat melakukan aktivitas
lain saat berada di jalan; alasan kedua, mobil tak berawak dapat mencari parkir
sendiri; alasan ketiga, mereka dapat berpindah secara otomatis saat terjadinya
kemacetan.

Lantas,
apa yang menjadi alasan dari mobil tak berawak ini dalam menggantikan mobil
umum di Indonesia? Alasannya dalah mobil umum mempunyai kelemahan dalam Human Error, dimana hal ini sebagian
besar yang menyebabkan kecelakaan mobil di Indonesia. Sebagai contoh, saat
mengendarai mobil di jalan raya, mereka mereka melakukan aktivitas lain seperti
Handphone, dimana hal ini membuat
kosentrasi terganggu dan tidak fokus. Selain itu, tidak memperhatikan
rambu-rambu lalu lintas. Lebih parahnya lagi, mereka mengendarai mobil dalam
keadaan mabuk. Sehingga hal ini dapat diantisipasi dengan adanya mobil tak
berawak di Indonesia

Namun,
perlu diketahui bahwa tidak sepenuhnya mobil tak berawak tidak memiliki
kelemahan. Mobil tak berawak tetaplah mesin yang tidak memiliki kemampuan dalam
pertimbangan etis dan moral. Sebagai contoh, ada sebuah kasus dimana mobil tak
berawak dihadapkan dengan lubang jalan yang ada di depannya, kemudian  mobil tersebut akan merespon dengan pergerakan
belok kiri ataupun kanan. Akan tetapi, masalahnya adalah saat di kanan dan kiri
ada objek seperti kendaraan, secara tidak langsung mobil tidak dapat
mempertimbangkan masalah ini dan kemungkinannya akan menabrak salah satu objek
kanan atau kiri demi keselamatan penumpangnya.

Untuk
mengatisipasi kelemahan tersebut, para ilmuwan telah berhasil menemukan suatu
sistem algoritma pada robot yang dapat belajar dari kesalahannya sendiri,
sehingga tidak perlu memproses ulang dari awal jika robot tersebut melakukan
kesalahan. Sistem ini telah dipatenkan oleh seorang peneliti dari University Of Texas Arlington ( UTA ),
Frank Lewis, yang bertanggung jawab pada pengembangan kecerdasan buatan.. Tidak
hanya itu, para ilmuwan juga mengembangkan sistem pengereman otomatis pada mobil
ini jika terjadi gangguan dijalan. Dengan penemuan-penemuan tersebut dapat meningkatkan
kualitas mobil tak berawak yang lebih baik, sehingga keamanan dari penggunaan
mobil ini terjamin keselamatannya.

Dari
pernyataan diatas, dapat diketahui bahwa mobil tak berawak mempunyai kelebihan
untuk menggantikan mobil umum di Indonesia dalam meminimalisir kecelakaan lalu
lintas. Disamping itu, Negara Indonesia telah memasuki kawasan MEA ( Masyarakat Ekonomi Asean ) yang
menuntut kreativitas dan penguasaan di bidang teknologi serta konsep
globalisasi yang membuat seolah-olah tidak ada batas pada negara satu dengan
negara lainnya. Oleh karena itu, jika tidak bisa menerima keadaan tersebut (
dikhusukan pada mobil tak berawak ), maka akan ketinggalan dengan negara maju
lainnnya. Untuk itu perlu dukungan dari masyarakat , pemerintah, dan perusahaan
dalam mengembangkan mobil ini. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa di masa
yang akan datang, mobil tak berawak siap untuk menggantikan mobil umum di
Indonesia.