BAB pengetahuan khususnya dalam teknologi informasi menyebabkan banyak

BAB I

PENDAHULUAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

1.1  Latar Belakang

Algoritma kriptografi adalah algoritma yang berfungsi
untuk melakukan tujuan dari ilmu kriptografi itu sendiri. Algoritma kriptografi
terdiri dari 2 bagian fungsi yaitu enkripsi dan dekripsi.

Pada jaman yang semakin modern ini, data dan informasi
selalu berada dalam kerentanan penyalahgunaan oleh pihak yang mampu menembus
beberapa tingkatan pengamanan yang ada dalam sebuah sistem. Seiring berjalannya
waktu semakin banyak ilmu pengetahuan khususnya dalam teknologi informasi
menyebabkan banyak orang dapat mempelajari tentang teknologi informasi,
khususnya dalam membobol suatu sistem informasi milik orang lain.

Dalam hal ini dibutuhkan perlingungan dalam suatu
sistem informasi yang akan penulis bahas dalam makalah ini. Tujuan dari
dibuatnya makalah ini adalah untuk membandingkan enkripsi dan dekripsi data
dengan menggunakan Advanced Encryption Standard (AES) dengan Data Encryption
Standard (DES).

 

1.2  Landasan Teori

1.2.1      
Penelitian
Terdahulu

DES
( Data Encryption Standard)

DES
merupakan salah satu algoritma kriptografi cipher block dengan ukuran blok 64
bit dan ukuran kuncinya 56 bit. Algoritma DES dibuat di IBM, dan merupakan
modifikasi daripada algoritma terdahulu yang bernama Lucifer. Lucifer
merupakan algoritma cipher block yang beroperasi pada blok masukan 64 bit
dan kuncinya berukuran 28 bit. Pengurangan jumlah bit kunci pada DES
dilakukan dengan alasan agar mekanisme algoritma ini bisa diimplementasikan
dalam satu chip.

            AES
(Advanced Encryption Standard)

            AES merupakan standar enkripsi
dengan kunci-simetris yang diadopsi oleh pemerintah Amerika Serikat. Standar
ini terdiri atas 3 blok cipher, yaitu AES-128, AES-192 and AES-256, yang
diadopsi dari koleksi yang lebih besar yang awalnya diterbitkan sebagai
Rijndael. Masing-masing cipher memiliki ukuran 128-bit, dengan ukuran kunci
masing-masing 128, 192, dan 256 bit. AES telah dianalisis secara luas dan
sekarang digunakan di seluruh dunia, seperti halnya dengan pendahulunya, Data
Encryption Standard (DES).

 

1.2.2      
Teori
terkait Block Cipher

Blok cipher merupakan algoritma kriptografi simetrik
yang mengenkripsi satu blok plaintext dengan jumlah bit tertentu dan
menghasilkan blok ciphertext dengan jumlah bit yang sama. Pada umumnya, setiap
blok plaintext yang diproses berukuran 64 bit. Namun, seiring dengan kemajuan
teknologi, ukuran blok plaintext berkembang menjadi 128 bit, 256 bit bahkan
menjadi 512 bit.

Dalam proses enkripsi, block cipher menggunakan
beberapa fungsi matematika, diantaranya fungsi permutasi dan fungsi substitusi,
sehingga konfusi (confussion) dan difusi (diffusion) pada block cipher
terpenuhi.

Istilah konfusi dan difusi tersebut diperkenalkan oleh
Claude Shannon pada tahun 1949. Menurutnya, konfusi dan difusi merupakan hal
yang harus diperhatikan dalam sistem kriptografi, karena dapat mencegah cryptanalysis,
khususnya yang berbasis analisis statistik (Cryptography and Network
Security-William Stalling). Konfusi adalah mengaburkan/membuat hubungan antara
ciphertext dan kunci enkripsi sekompleks mungkin sehingga tidak ada hubungan
statistik antara keduanya. Hal ini dapat mencegah attacker untuk mendapatkan
kunci enkripsi. Konfusi dapat diusahakan dengan menggunakan fungsi substitusi.
Sedangkan difusi adalah menyebarkan struktur plaintext pada ciphertext,
sehingga tidak ada hubungan statistik antara keduanya. Setiap digit plaintext
mempengaruhi sejumlah digit ciphertext, atau dengan kata lain, setiap digit
ciphertext dipengaruhi oleh sejumlah digit plaintext. Difusi dapat diusahakan
dengan menggunakan fungsi permutasi pada proses enkripsi.1.1  KesimpulanDalam makalah ini penulis sajikan bagaimana cara enkripsi data
menggunakan AES dan DES sekaligus perbandingan antara DES dan AES. Berdasarkan
contoh enkripsi yang telah penulis kerjakan, algoritma AES membutuhkan waktu
lebih singkat dari algoritma DES, dan perhitungan dalam algoritma AES pastinya
lebih sedikit dari DES karena tidak memakan waktu banyak. Menurut penulis
algoritma AES lebih baik daripada DES karena cara enkripsinya tidak serumit DES
dan seperti yang sudah penulis katakan tadi, AES memakan waktu lebih sedikit
dari DES.                          Acuanhttp://kriptografijaringan.blogspot.co.id/2016/03/enskripsi-algoritma-des-data-encryption.htmlhttps://cryptobounce.wordpress.com/2008/06/19/block-cipher/http://studyinformatics.blogspot.co.id/2012/07/aes-advanced-encryption-standard.htmlhttp://kriptografijaringan.blogspot.co.id/2016/03/enkripsi-algoritma-aes-advanced.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Advanced_Encryption_Standard